Di tengah gempuran era digital, penanaman sopan santun menjadi semakin mendesak, terutama di kalangan remaja usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Perkembangan teknologi informasi yang pesat, dengan segala kemudahannya, seringkali mengikis batasan etika dan norma kesopanan, baik dalam interaksi langsung maupun di dunia maya. Oleh karena itu, SMP memiliki peran vital dalam membekali siswa dengan nilai-nilai etika dasar, memastikan mereka tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga memiliki adab yang luhur dalam setiap interaksi. Pentingnya sopan santun ini tidak hanya relevan untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga krusial dalam membentuk warga digital yang bertanggung jawab.
Penanaman sopan santun di lingkungan SMP dapat diwujudkan melalui berbagai strategi yang terintegrasi. Salah satunya adalah melalui kurikulum yang menyoroti etika digital (netiket), termasuk cara berkomunikasi yang baik di media sosial, pentingnya menghargai privasi orang lain, dan bahaya perundungan siber. Contoh konkret dapat dilihat dari inisiatif SMP Nusa Indah di Makassar, yang pada tanggal 22 April 2025, secara rutin mengadakan sesi “Literasi Digital Beretika” setiap hari Selasa, di mana siswa diajarkan tentang jejak digital dan konsekuensi dari unggahan yang tidak pantas. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa akan dampak tindakan mereka di dunia maya.
Selain itu, peran guru dan orang tua sangat fundamental dalam menanamkan sopan santun. Guru dapat menjadi teladan dengan menunjukkan perilaku dan komunikasi yang santun dalam interaksi di kelas maupun di luar kelas. Sementara itu, orang tua perlu aktif mendampingi dan memberikan pemahaman tentang etika penggunaan gawai di rumah. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga akan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan karakter siswa. Dalam sebuah simposium yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada hari Jumat, 9 Mei 2025, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Bapak Ir. Budi Setiawan, menekankan bahwa penanaman nilai sopan santun sejak dini, khususnya di jenjang SMP, adalah kunci untuk membentuk generasi muda yang kritis dan beretika dalam menggunakan teknologi digital, sehingga dapat meminimalkan kasus-kasus seperti penyebaran berita bohong atau cyberbullying.
Dampak positif dari penanaman sopan santun yang kuat akan terlihat ketika siswa beranjak dewasa. Mereka akan menjadi individu yang mampu berinteraksi dengan baik, baik secara langsung maupun daring, menghargai perbedaan pendapat, dan berkontribusi positif dalam masyarakat digital. Lulusan SMP yang memiliki dasar etika dan sopan santun yang kokoh akan lebih siap menghadapi tantangan era digital, menggunakan teknologi secara bijak, dan menjadi agen perubahan yang beradab. Dengan demikian, penguatan sopan santun di jenjang SMP merupakan investasi krusial untuk masa depan bangsa yang lebih beretika dan harmonis.
